Dijuluki sebagai “Lost World of Sabah” atau Dunia yang Hilang di Sabah, Maliau Basin merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis paling terpencil dan masih alami di Asia Tenggara. Berlokasi di bagian selatan Sabah, Malaysia, kawasan konservasi ini membentang seluas sekitar 588 kilometer persegi hampir setara dengan luas negara Singapura.

Maliau Basin dikenal sebagai salah satu ekosistem dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Kawasan ini dikelilingi tebing-tebing alami yang membentuk cekungan raksasa, sementara seluruh aliran airnya bermuara ke Sungai Maliau, yang kemudian bergabung dengan Sungai Kinabatangan, sungai terbesar di Sabah.
1. Surga Keanekaragaman Hayati
Maliau Basin menjadi rumah bagi lebih dari 1.800 spesies tumbuhan, termasuk enam jenis kantong semar (pitcher plant) dan lebih dari 80 spesies anggrek, banyak di antaranya merupakan spesies langka dan endemik.

Kawasan ini juga menjadi habitat Rafflesia tengku-adlinii, salah satu bunga rafflesia paling langka yang hanya ditemukan di dua lokasi di Sabah. Para ilmuwan bahkan masih terus menemukan spesies baru di kawasan ini, termasuk jenis pohon dan lumut yang sebelumnya belum pernah tercatat dalam dunia sains.
Bentang alam Maliau Basin didominasi beragam tipe hutan, mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan dipterokarpa, hingga hutan pegunungan yang dihiasi pohon-pohon Agathis berukuran raksasa.
2. Petualangan di Hutan Purba
Selama bertahun-tahun, Maliau Basin hanya dikenal oleh masyarakat adat Murut. Dunia luar baru mengetahui keberadaan kawasan ini pada tahun 1947 setelah seorang pilot secara tidak sengaja menemukan cekungan raksasa yang diselimuti kabut saat hampir mengalami kecelakaan.

Meski kini berstatus kawasan konservasi, sebagian besar wilayah Maliau Basin tetap belum tersentuh pembangunan. Inilah yang membuatnya tetap mempertahankan julukan sebagai “Dunia yang Hilang”.
Bagi pencinta petualangan, salah satu daya tarik utama kawasan ini adalah Air Terjun Maliau yang terdiri dari tujuh tingkatan dan tersembunyi jauh di tengah hutan. Pengunjung juga dapat mengikuti trekking menembus hutan hujan, mengamati ratusan spesies burung, hingga mengikuti night drive untuk melihat satwa liar yang aktif pada malam hari.
3. Surga bagi Pencinta Alam
Maliau Basin merupakan destinasi impian bagi pecinta alam, fotografer satwa liar, pengamat burung, dan pendaki hutan. Hingga kini telah tercatat lebih dari:
- 30 spesies mamalia
- 270 spesies burung
- 80 lebih spesies anggrek langka dan endemik

Berbagai ekspedisi ilmiah juga terus menemukan spesies flora dan fauna baru, menjadikan kawasan ini sebagai laboratorium alam yang sangat berharga.
Selain menjelajahi hutan, pengunjung dapat berenang di kolam alami di bawah air terjun atau menikmati suasana malam yang tenang sambil mencari satwa liar bersama pemandu. Tur tersedia untuk kelompok kecil maupun rombongan hingga 20 orang.
4. Paket Wisata
Biaya kunjungan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga disarankan untuk mengecek situs resmi pengelola sebelum melakukan perjalanan.
Umumnya paket wisata telah mencakup:
- Sarapan, makan siang, dan makan malam.
- Transportasi pulang pergi dari Tawau menuju Agathis Camp.
- Biaya konservasi dan penggunaan kawasan.
- Penyewaan radio komunikasi (VHF).
- Pendamping ranger hutan sekaligus operator radio.
- Pemandu wisata.



